MOTORESTO.ID, JAKARTA — Produksi mobil Hyundai Motor di Korea Selatan terganggu setelah serikat pekerja menggelar aksi mogok besar. Aksi ini menjadi mogok penuh pertama Hyundai dalam satu dekade terakhir, di tengah kebuntuan perundingan antara pekerja dan manajemen.
Pada Jumat (21/8/2026), sekitar 39.000 anggota serikat pekerja Hyundai melakukan mogok selama delapan jam. Penghentian tersebut berdampak pada seluruh lini produksi di pabrik Ulsan, Jeonju, dan Asan. Reuters menyebut aksi ini merupakan mogok penuh pertama serikat Hyundai sejak 2016.
Serangkaian aksi mogok sebelumnya juga telah dilakukan secara parsial sejak akhir Juli. Secara kumulatif, gangguan produksi diperkirakan telah berdampak terhadap sekitar 55.200 kendaraan. Yonhap memperkirakan nilai kendaraan yang terdampak mencapai lebih dari 2,3 triliun won atau sekitar US$1,67 miliar.
Tuntutan Serikat Pekerja Hyundai
Perselisihan antara Hyundai dan serikat pekerja tidak hanya berkaitan dengan kenaikan gaji. Para pekerja juga menuntut peningkatan bonus, perpanjangan usia pensiun, serta pemulihan status sejumlah pekerja yang diberhentikan terkait aktivitas serikat.
Reuters melaporkan serikat meminta bonus meningkat menjadi 800 persen dari gaji pokok bulanan, dari sebelumnya 750 persen. Mereka juga mendorong kenaikan batas usia pensiun yang saat ini berada di 60 tahun.
Isu lain yang menjadi perhatian adalah penggunaan kecerdasan buatan (AI) dan otomatisasi di industri otomotif. Serikat meminta adanya perlindungan terhadap pekerja seiring meningkatnya penggunaan teknologi tersebut.
Hyundai sendiri memiliki Boston Dynamics dan berencana mulai menggunakan robot humanoid di fasilitas produksinya di Georgia, Amerika Serikat, pada 2028 sebelum memperluas penerapannya ke fasilitas lain.
Mogok Hyundai 24 Agustus Ditunda
Meski sebelumnya serikat merencanakan mogok parsial selama empat jam pada 24 dan 25 Agustus, rencana untuk 24 Agustus kemudian ditunda.
Hyundai dan serikat pekerja sepakat melanjutkan kembali perundingan pada Senin (24/8) di pabrik Ulsan. Pertemuan tersebut menjadi putaran negosiasi ke-17. Keputusan mengenai aksi mogok berikutnya akan ditentukan berdasarkan hasil perundingan.
Hingga 23 Agustus, total waktu mogok disebut telah mencapai 60 jam. Jika dihitung berdasarkan penghentian lini produksi pada dua shift, waktu gangguan produksi mencapai 120 jam.

Komentar