MOTORESTO.ID, SUBANG — BYD resmi mengoperasikan fasilitas produksi kendaraan listriknya di Subang, Jawa Barat. Kehadiran pabrik ini menjadi langkah penting BYD dalam memperkuat basis manufaktur sekaligus membangun ekosistem kendaraan energi baru di Indonesia.
Berdiri di atas tanah seluas 126 hektar, BYD menyebut total investasi yang telah didaftarkan secara resmi di Indonesia mencapai Rp16 triliun. Angka tersebut mencakup lebih dari sekadar bangunan pabrik, tetapi juga part center, distribution center, jaringan logistik, serta jaringan pendukung ekosistem manufaktur.
Head of Public & Government Relations PT BYD Motor Indonesia, Luther Panjaitan, menjelaskan angka Rp11 triliun yang sebelumnya banyak diberitakan hanya mengacu pada investasi fasilitas atau building pabrik.
“Secara keseluruhan, investasi yang kami daftarkan secara resmi di sistem OSS adalah Rp16 triliun,” ujar Luther.
Pabrik BYD Subang Jadi Basis Produksi Lokal

Dengan beroperasinya pabrik Subang, BYD mulai mengalihkan produksi sejumlah model ke dalam negeri. Saat ini terdapat tiga model yang telah dirakit secara lokal, yakni BYD M6 EV, M6 DM-i, dan Atto 1.
BYD juga menyiapkan produksi lokal untuk model lain yang memiliki volume penjualan cukup signifikan dan stabil. Denza menjadi salah satu merek yang disebut sudah berada di lini akhir persiapan produksi lokal.
Menurut Luther, strategi lokalisasi produk juga harus disesuaikan dengan optimalisasi lini produksi. Tidak semua varian dapat diproduksi sekaligus karena konfigurasi fasilitas manufaktur harus dibuat seefisien mungkin.
Untuk BYD M6 sendiri, produksi lokal mencakup versi EV dan DM-i.
Kapasitas Produksi Bisa Mencapai 150.000 Unit
Presiden Direktur PT BYD Motor Indonesia, Eagle Zhao, mengatakan fasilitas produksi BYD di Subang memiliki kapasitas hingga 150.000 unit per tahun dan masih dapat dikembangkan.
Pengoperasian pabrik juga menjadi bagian dari rencana BYD untuk memperluas ekosistem manufaktur kendaraan listrik di Indonesia.
“Komitmen BYD bukan cuma memproduksi, kedepannya kita akan memproduksi full fasilitas. Dari welding hingga assembling,” kata Eagle.
BYD juga menyatakan tengah mempersiapkan pengembangan manufaktur yang berkaitan dengan baterai. Perusahaan menargetkan peningkatan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) secara bertahap.
Target TKDN BYD Capai 60 Persen pada 2027
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan peningkatan TKDN menjadi bagian penting dalam pengembangan manufaktur BYD di Indonesia.
Tahap pertama menargetkan TKDN sebesar 40 persen hingga 2026. Selanjutnya, angka tersebut akan meningkat menjadi 60 persen pada 2027-2028, sebelum mencapai minimal 80 persen mulai 2030.
Eagle Zhao mengatakan BYD optimistis dapat memenuhi target TKDN 60 persen pada Januari 2027.
“2027 sebentar lagi, dan kami akan memenuhi TKDN 60%. Dari persiapan saat ini, kami optimis bisa memenuhi TKDN di Januari 2027,” ujar Eagle.
Perhitungan TKDN sendiri tidak hanya berasal dari satu komponen lokal, tetapi merupakan gabungan berbagai elemen penyerta dari dalam negeri.
BYD Perkuat Ekosistem Industri di Indonesia
Selain produksi kendaraan, BYD juga mulai memperluas kerja sama dengan berbagai mitra lokal, mulai dari dealer, perusahaan pembiayaan, hingga manufaktur dan penyedia infrastruktur pengisian daya.
Menurut Eagle, penguatan kerja sama dengan perusahaan lokal diharapkan dapat mendorong semakin banyak industri pendukung otomotif berkembang di Indonesia.
BYD juga mengisyaratkan masih akan menambah investasi dan melengkapi ekosistem industrinya di Tanah Air.
“Kita juga akan memperbesar investasi kita di Indonesia. Dan melengkapi ekosistem di Indonesia. Jadi tunggu saja,” ujar Eagle.

Komentar