Bisnis
Beranda » Tokyo Naikkan Subsidi Mobil Listrik hingga Rp145 Juta, Ini Rinciannya

Tokyo Naikkan Subsidi Mobil Listrik hingga Rp145 Juta, Ini Rinciannya

Toyota bZ4X Touring di GIIAS 2026 (Doc. Motoresto).

MOTORESTO.ID, TOKYO – Pemerintah Metropolitan Tokyo, Jepang, meningkatkan insentif pembelian kendaraan elektrifikasi sebagai upaya mendorong masyarakat beralih ke kendaraan rendah emisi.

Melansir Carscoops, Tokyo kini menawarkan subsidi hingga 1,3 juta yen atau sekitar Rp145,7 juta untuk pembelian mobil listrik (EV). Sementara itu, kendaraan hybrid memperoleh subsidi maksimal 1,15 juta yen atau sekitar Rp128,9 juta.

Besaran tersebut masing-masing meningkat 300.000 yen atau sekitar Rp33,6 juta dari skema sebelumnya.

Besaran Subsidi Tergantung Merek

BYD Racco (Doc. BYD).

Uniknya, tidak semua merek mendapatkan besaran subsidi yang sama. Menurut laporan Nikkei Asia, model EV dan hybrid dari Toyota, Nissan, dan Honda berhak mendapatkan tambahan subsidi hingga 400.000 yen atau sekitar Rp44,8 juta.

Sementara itu, kendaraan dari Mitsubishi, BMW, Mercedes-Benz, dan Tesla menerima tambahan hingga 300.000 yen atau sekitar Rp33,6 juta.

Changan Resmikan Dealer Bali, Perluas Jaringan Kendaraan Elektrifikasi di Indonesia

Di sisi lain, kendaraan dari BYD hanya mendapatkan tambahan subsidi sebesar 100.000 yen atau sekitar Rp11,2 juta.

Sementara itu, tersedia pula insentif hingga 200.000 yen atau sekitar Rp22,4 juta melalui kategori yang berkaitan dengan transformasi hijau.

Selain itu, produsen yang telah menjual sedikitnya 60 kendaraan baru tanpa emisi di Tokyo sepanjang 2025 dapat memenuhi syarat untuk mendapatkan tambahan subsidi tertentu.

Subsidi untuk V2L dan Energi Terbarukan

Skema tersebut tak hanya berfokus pada harga kendaraan. Pemerintah setempat juga menyediakan sejumlah subsidi tambahan untuk mobil yang memiliki kemampuan Vehicle-To-Load (V2L).

Kendaraan yang dilengkapi kemampuan Vehicle-to-Load (V2L) mendapatkan tambahan subsidi sebesar 100.000 yen atau sekitar Rp11,2 juta.

Beginilah Gaya Retro Futuristik Ala Geely EX2 dan HSR Wheel

Lalu pemasangan perangkat untuk mengisi dan menyalurkan listrik kendaraan juga mendapatkan subsidi sebesar 100.000 yen atau sekitar Rp11,2 juta.

Konsumen yang menggunakan penyedia listrik dengan sumber energi 100 persen terbarukan akan mendapatkan subsidi sebesar 150.000 yen atau sektiar Rp16,8 juta.

Sementara itu, pemilik EV maupun hybrid yang rumah atau tempat kerjanya menggunakan tenaga surya berpotensi mendapatkan tambahan subsidi hingga 300.000 yen atau sekitar Rp33,6 juta.

Insentif Dapat Digabung

Insentif dari Pemerintah Metropolitan Tokyo tersebut dapat digabungkan dengan subsidi yang diberikan pemerinah pusat Jepang.

Program nasional juga menawarkan subsidi hingga 1,3 juta yen atau sekitar Rp145,7 juta. Meski nominalnya tetap bergantung pada kendaraan dan sejumlah faktor lainnya.

Sambut HUT ke-54 Wahana Artha Group Perkuat Kolaborasi dan Berbagi untuk Pertumbuhan

Toyota bZ4X menjadi salah satu model yang memenuhi syarat untuk mendapatkan subsidi nasional maksimal sebesar 1,3 juta yen.

Dengan gabungan subsidi maksimal dari Pemerintah Metropolitan Tokyo, total insentif secara teoritis dapat mencapai 2,6 juta yen atau sekitar Rp291 juta.

Carscoops menyebut harganya berada di kisaran 4,8 juta yen atau sekitar Rp537,8 juta. Harga efektifnya secara teoritis dapat turun menjadi sekitar 2,2 juta yen atau Rp246,5 juta setelah mendapatkan subsidi maksimal.

Namun, angka tersebut merupakan simulasi berdasarkan besaran subsidi maksimal. Tidak semua konsumen maupun kendaraan otomatis mendapatkan jumlah insentif tertinggi.

Penjualan EV Jepang Relatif Rendah

Peningkatan subsidi ini berlaku ketika jumlah mobil listrik di Jepang masih relatif rendah. Carscoops mencatat bahwa kendaraan listrik hanya menyumbang sekitar 1,6 persen dari penjualan mobil baru di Jepang sepanjang 2025.

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah terus memberikan insentif untuk meningkatkan daya tarik kendaraan listrik di pasar domestik. Perbedaan besaran subsidi juga menjadi tantangan bagi produsen asing seperti BYD.

Carscoops mengutip laporan Nikkei Asia, menyebut perbedaan insentif tersebut membuat posisi sejumlah merek asing menjadi kurang menguntungkan dibandingkan produsen yang menggunakan baterai produksi Jepang.

Menariknya, insentif tersebut hadir ketika sejumlah produsen mulai melihat potensi pertumbuhan pasar EV Jepang.

Tesla, misalnya, mencatat penjualan lebih dari 10.000 unit di Jepang sepanjang 2025. Angka tersebut kemudian kembali bertambah dalam enam bulan pertama di 2026.

Sekitar 12.000 unit telah terjual hanya dalam enam bulan pertama 2026, berdasarkan laporan Nikkei Asia yang dikutip Carscoops.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *