MOTORESTO.ID, JAKARTA – Keraguan masyarakat ketika ingin beralih ke kendaraan listrik masih menjadi tantangan dalam perkembangan pasa otomotif.
Mulai dari kekhawatiran baterai mudah terbakar, risiko melewati banjir, hingga biaya penggantian baterai yang mahal.
Berdasarkan survei PwC Indonesia, sebanyak 87% responden mengkhawatirkan biaya penggantian baterai.
Menanggapi hal tersebut, VinFast mencoba menjawab sejumlah mitos mengenai mobil listrik melalui teknologi dan skema kepemilikannya.
Baterai Mobil Listrik Mudah Terbakar?
Salah satu kekhawatiran terbesar konsumen adalah keamanan baterai. Namun, VinFast mengutip data AutoinsuranceEZ.
Tercatat sekitar 25 kejadian kebakaran per 100.000 kendaraan listrik. Angka tersebut rupanya lebih rendah dari mobil bensin yang mencapai 1.530 kejadian.
VinFast sendiri menggunakan baterai Lithium Iron Phosphate (LFP) yang memiliki stabilitas termal baik.
Keamanannya juga didukung Battery Management System (BMS) untuk memantau suhu, tegangan, dan arus listrik.
Selain itu, tersedia skema battery subscription. Melalui sistem ini, VinFast menanggung perawatan hingga penggantian baterai apabila kondisinya menurun di bawah 70%.
Aman Melewati Genangan Air?
VinFast menjelaskan bahwa baterainya memiliki sertifikasi IP67, yang kedap debu dan mampu bertahan dalam perendaman air hingga 1 meter selama 30 menit.
Berbeda dengan mobil bermesin bensin, kendaraan listrik tidak membutuhkan ruang pembakaran maupun saluran knalpot.
Meski demikian, bukan berarti mobil listrik kebal banjir. Genangan teralu dalam dan arus air deras tetap berbahaya bagi kendaraan.
Biaya Kepemilikan Lebih Mahal?
VinFast juga menyoroti biaya kepemilikan yang kerap menjadi pertimbangan konsumen.
Berdasarkan kalkulasi Total Cost of Ownership (TCO) perusahaan selama lima tahun dengan asumsi penggunaan 2.000 kilometer per bulam, VF 3 dengan skema battery subscription memiliki estimasi biaya Rp159,45 juta.
Angka tersebut sekitar 48% lebih rendah dari mobil bensin yang bisa mencapai Rp303,9 juta.
Sementara itu, VF MPV 7 dengan skema serupa memiliki estimasi TCO Rp369,16 juta, atau sekitar 21 persen lebih rendah dibandingkan mobil bensin pembanding.
Penghematan tersebut semakin didukung program pengisian daya gratis melalui jaringan V-Green hingga 31 Maret 2029.
Salah satu pemilik VF 3 asal Bandung, Ferdiana, mengaku merasakan manfaat program tersebut ketika melakukan perjalanan dari Bandung menuju sejumlah kota di Jawa Tengah dan Jawa Barat.
“Saya hanya satu kali mengisi daya di stasiun pengisian milik hotel, biayanya sekitar Rp30.000. Itu pun sebenarnya karena saya ingin lebih santai. Selebihnya gratis dengan memanfaatkan jaringan pengisian daya VinFast,” ujarnya.
Untuk memberikan kepastian nilai jual kembali, VinFast juga menawarkan Residual Value Guarantee hingga 90% dari harga pembelian awal dalam enam bulan pertama, 86% pada tahun pertama, 78% pada tahun kedua, dan 70% pada tahun ketiga.
Melalui teknologi baterai, perlindungan konsumen, serta berbagai skema kepemilikan tersebut, VinFast berupaya menjawab keraguan masyarakat terhadap kendaraan listrik.

Komentar