Mobil
Beranda » Gaikindo Minta Insentif Mobil Hybrid demi Jaga Industri Komponen Nasional

Gaikindo Minta Insentif Mobil Hybrid demi Jaga Industri Komponen Nasional

Toyota
Toyota

MOTORESTO.ID, JAKARTA — Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) kembali mendorong pemerintah agar kebijakan insentif kendaraan elektrifikasi tidak hanya diberikan kepada mobil listrik berbasis baterai (Battery Electric Vehicle/BEV), tetapi juga kendaraan hybrid, plug-in hybrid (PHEV), dan Range Extender Electric Vehicle (REEV).

Menurut Ketua Bidang Pengembangan Pasar Gaikindo, Jongkie Sugiarto, seluruh teknologi elektrifikasi tersebut sama-sama berkontribusi terhadap efisiensi energi dan penurunan emisi, sehingga layak memperoleh dukungan dari pemerintah.

“Kami sejak awal mengusulkan agar insentif tidak hanya diberikan kepada kendaraan listrik murni (BEV), tetapi juga mobil hybrid, plug-in hybrid, dan REEV karena semuanya berkontribusi terhadap efisiensi energi dan pengurangan emisi,” ujar Jongkie.

Lima Alasan Hybrid Layak Mendapat Insentif

Gaikindo menilai kendaraan hybrid memiliki sejumlah keunggulan yang dapat mendukung percepatan elektrifikasi nasional tanpa mengganggu ekosistem industri otomotif yang telah ada.

Setidaknya terdapat lima alasan utama mengapa kendaraan hybrid dinilai layak memperoleh insentif, yaitu lebih hemat bahan bakar, menghasilkan emisi yang lebih rendah, tidak bergantung pada infrastruktur pengisian daya, memiliki harga yang relatif lebih terjangkau dibanding mobil listrik murni, serta tetap menggunakan komponen mesin konvensional yang menopang industri pemasok dalam negeri.

GAIKINDO: Penyaluran BBM Biodiesel B50 Harus Merata

Menjaga Industri Komponen Nasional

Selain aspek lingkungan, Gaikindo juga menyoroti dampak terhadap industri komponen otomotif nasional apabila transisi menuju kendaraan listrik dilakukan terlalu cepat.

Honda Civic Rs e:HEV. Dok. Motoresto.id

Jongkie mencontohkan bahwa sejumlah komponen seperti radiator, knalpot, hingga filter udara tidak lagi digunakan pada kendaraan listrik murni. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi permintaan terhadap industri komponen lokal.

“Jadi saya nggak khawatir pabrik radiator tutup, pabrik knalpot tutup, pabrik filter tutup. Itu di mobil BEV kan nggak dipakai. Itu yang terjadi di Thailand. Nah kita jangan sampai begitu dong,” kata Jongkie.

Menurutnya, kendaraan hybrid dapat menjadi solusi transisi karena masih membutuhkan komponen mesin konvensional sehingga keberlangsungan industri pemasok nasional tetap terjaga.

Sejalan dengan Target Pemerintah

Gaikindo menilai pemberian insentif kepada kendaraan hybrid, PHEV, maupun REEV juga sejalan dengan tujuan pemerintah dalam mempercepat adopsi kendaraan rendah emisi.

Rebut Pasar di GIIAS 2026, Pabrikan Tawarkan Beragam Tema Pameran Menarik

Selain membantu menekan konsumsi bahan bakar bersubsidi, kendaraan elektrifikasi juga dinilai mampu mendukung komitmen Indonesia dalam menurunkan emisi karbon sesuai target Paris Agreement.

“Program pemerintah itu purpose-nya apa, sih? Kan dua, ingin akselerasi mobil-mobil BEV supaya dua hal. Yang pertama, subsidi BBM bisa dikurangi. Yang kedua, karena kita menangani Paris Agreement, polusi harus diturunkan,” pungkas Jongkie.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *