MOTORESTO.ID, JAKARTA – Kenyamanan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan saat memilih SUV untuk perjalanan luar kota. Bukan hanya soal tenaga dan fitur, karakter suspensi, posisi duduk, serta fleksibilitas sumber energi juga berpengaruh terhadap pengalaman berkendara.
Hal tersebut menjadi perhatian saat menjajal Jaecoo J8 SHS ARDIS dalam perjalanan dari Jakarta menuju Cirebon. Mobil ini menempuh jarak 225,6 kilometer berdasarkan odometer, dengan rute yang mencakup jalan tol layang MBZ.
Sebelum berangkat, indikator baterai menunjukkan sekitar 80 persen dengan estimasi jarak tempuh 124 kilometer. Bahan bakar juga diisi sebesar Rp300.000 menggunakan Pertamax dengan harga Rp15.950 per liter. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 18,81 liter bensin.
Pada awal perjalanan, indikator bahan bakar menunjukkan estimasi jarak tempuh 484 kilometer. Angka ini merupakan perkiraan dari sistem kendaraan, bukan jaminan jarak tempuh aktual.
Suspensi Jaecoo J8 SHS ARDIS Terasa Nyaman di Jalan Tol
Saat melaju dengan kecepatan konstan sekitar 100 km/jam di jalan tol layang MBZ, karakter suspensi menjadi salah satu hal yang menonjol. Redaman terasa halus ketika melewati permukaan jalan yang tidak rata, sementara guncangan dapat diserap dengan baik.
Kenyamanan kabin juga terasa mendukung perjalanan jarak jauh. Selama pengujian, bantingan suspensi tidak terasa berlebihan dan perjalanan berlangsung nyaman tanpa menimbulkan rasa mual.
Dari sisi pengendalian, dimensi bodi yang besar membuat sedikit gejala limbung tetap terasa. Meski demikian, karakter tersebut masih dinilai wajar dan tidak berlebihan untuk penggunaan harian maupun perjalanan luar kota.
Posisi duduk yang ergonomis turut menunjang kenyamanan. Pengaturan jok dan setir yang fleksibel, termasuk maju-mundur serta penyesuaian teleskopik pada setir, memudahkan pengemudi menemukan posisi berkendara yang sesuai.
Baterai 30 kWh dan Tangki Bensin 55 Liter

Jaecoo J8 SHS ARDIS memiliki baterai berkapasitas 30 kWh dan tangki bahan bakar berkapasitas 55 liter. Kombinasi keduanya memberikan fleksibilitas untuk perjalanan jauh, terutama ketika akses ke stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) tidak selalu tersedia di sepanjang rute.
Sebagai ilustrasi, jika menggunakan tarif pengisian Rp2.500 per kWh, energi sebesar 30 kWh bernilai Rp75.000. Angka tersebut merupakan perhitungan teoritis untuk energi 30 kWh, bukan biaya pasti pengisian dari kondisi baterai kosong hingga penuh. Biaya aktual bergantung pada energi yang masuk dan tarif yang berlaku.
Kapasitas baterai yang cukup besar untuk sebuah sistem hybrid juga membuat pengelolaan energi menarik untuk diperhatikan. Namun, biaya operasional keseluruhan tetap perlu dihitung dengan mempertimbangkan pemakaian bensin dan listrik secara bersamaan.
Sisa Bensin dan Baterai Setelah Menempuh 225,6 Km
Setelah tiba di Cirebon, odometer menunjukkan jarak tempuh 225,6 kilometer. Indikator kendaraan memperkirakan sisa jarak tempuh bensin sebesar 337 kilometer, sedangkan estimasi jarak tempuh dari baterai tersisa 16 kilometer.
Data tersebut memberikan gambaran kondisi indikator mobil setelah perjalanan, tetapi belum cukup untuk menentukan konsumsi BBM aktual maupun efisiensi energi secara akurat. Perhitungan yang lebih tepat membutuhkan data penggunaan bensin dan listrik selama perjalanan, termasuk jumlah energi yang digunakan serta kondisi awal dan akhir pengujian.

Komentar