MOTORESTO.ID JAKARTA – Dalam kurun waktu hanya dua tahun, VinFast mencatatkan lompatan yang jarang terjadi dalam sejarah industri Asia Tenggara. Berawal sebagai pendatang baru di panggung global kendaraan listrik, produsen asal Vietnam ini kini menjelma menjadi salah satu aktor yang turut membentuk arah baru pengembangan industri otomotif, termasuk di Indonesia. Peresmian kompleks manufaktur berteknologi tinggi VinFast menjadi penegasan ambisi Vietnam dalam menghadapi era transformasi hijau.
Perjalanan singkat namun agresif tersebut menarik perhatian kalangan ekonom. Salah satunya adalah ekonom Indonesia, Josua Pardede, yang melakukan diskusi mendalam untuk menelaah faktor-faktor di balik kebangkitan cepat VinFast. Menurutnya, pertumbuhan VinFast tidak dapat dilepaskan dari kekuatan ekosistem induknya, Vingroup.
Pardede, yang selama bertahun-tahun meneliti transformasi ekonomi Vietnam serta kebangkitan perusahaan swasta besar di kawasan, menilai Vingroup sebagai contoh langka konglomerasi pasar berkembang yang mampu mengintegrasikan teknologi, manufaktur, pengembangan perkotaan, energi hijau, hingga inisiatif sosial dalam satu strategi terpadu.
Ia menekankan bahwa Vingroup tidak beroperasi sebagai kumpulan entitas bisnis terpisah. Sebaliknya, grup ini membentuk sebuah “superstruktur” industri yang saling terhubung. Setiap lini usaha dirancang untuk saling memperkuat, menciptakan sistem sirkular yang mampu membangun permintaan sekaligus menopang pasokan.
“Jika kita hanya melihat VinFast, kita melihat produsen kendaraan listrik,” ujar Pardede. “Namun jika perspektif diperluas, terlihat desain multi-industri yang memungkinkan Vingroup memahami perilaku konsumen di berbagai titik interaksi dan membangun sinergi yang sulit ditiru.”
Menurut Pardede, integrasi vertikal Vingroup memberikan dua keunggulan utama yang krusial di pasar negara berkembang, yakni skala dan kecepatan. Kontribusi grup ini terhadap Produk Domestik Bruto Vietnam menunjukkan bagaimana perusahaan swasta dapat berperan signifikan dalam perekonomian nasional ketika mampu menghubungkan berbagai sektor secara efektif.
Dalam konteks VinFast, integrasi tersebut memungkinkan perusahaan bertransformasi cepat dari pendatang baru menjadi produsen kendaraan listrik global, lengkap dengan jaringan showroom dan pusat layanan di berbagai negara. Model bisnis ini menyelaraskan manufaktur, teknologi, energi, properti, dan layanan dalam satu kerangka eksekusi yang terkoordinasi.
Untuk pasar seperti Indonesia dan India, VinFast menerapkan strategi perakitan lokal sebagai langkah awal. Pendekatan ini dimulai dengan perakitan di dalam negeri, lalu secara bertahap meningkatkan kandungan lokal guna memanfaatkan insentif pemerintah dan mengendalikan biaya, sebelum beralih ke produksi skala besar. Di saat yang sama, jaringan diler dibangun untuk menjangkau konsumen tanpa harus langsung menanggung belanja modal yang sangat besar. Meski demikian, Pardede mengingatkan bahwa keberhasilan jangka panjang tetap bergantung pada kualitas eksekusi dan keberlanjutan finansial.
Lebih jauh, Pardede menilai model terintegrasi Vingroup dapat menjadi referensi penting bagi negara-negara Asia Tenggara, meskipun bukan cetak biru yang dapat diterapkan secara seragam. Model ini lebih tepat dipandang sebagai kerangka pembangunan yang dapat disesuaikan dengan kondisi lokal.
Dalam sektor mobilitas hijau, misalnya, Vingroup membangun ekosistem menyeluruh melalui VinFast sebagai produsen kendaraan listrik, VinBus untuk transportasi publik, V-Green sebagai penyedia infrastruktur pengisian daya dan energi, serta GSM yang mengembangkan mobilitas berbasis layanan. Pendekatan ini bertujuan menciptakan ekosistem pendukung yang lengkap, bukan sekadar menjual produk individual.
Dari sudut pandang ekonomi, konsumen dinilai lebih cepat mengadopsi teknologi baru ketika dihadapkan pada sistem yang komprehensif kendaraan yang didukung oleh infrastruktur pengisian daya, layanan, dan pasokan energi yang memadai.
Sementara itu, Indonesia dihadapkan pada tantangan kemacetan dan kualitas udara, di tengah komitmen mencapai target net-zero emissions pada 2060. Dalam konteks tersebut, kehadiran konglomerasi yang mampu menghubungkan teknologi, transportasi, dan energi bersih—baik dari dalam maupun luar negeri dapat menjadi katalis penting dalam mempercepat transisi hijau di kawasan ASEAN. Kuncinya, menurut Pardede, terletak pada kemampuan menyesuaikan model tersebut dengan daya beli masyarakat dan kapasitas kelembagaan lokal.
Usai meninjau langsung pabrik VinFast di Hai Phong, Pardede menggambarkan fasilitas tersebut sebagai salah satu pabrik otomotif paling terotomatisasi di kawasan, dengan kapasitas desain mencapai ratusan ribu unit per tahun serta fleksibilitas untuk meningkatkan skala produksi. Bagi Asia Tenggara, yang masih banyak bergantung pada proses manufaktur manual, fasilitas ini menjadi ilustrasi nyata potensi peningkatan rantai nilai industri.
Ia meyakini bahwa jika pendekatan serupa dapat diadaptasi di Indonesia dengan penguatan jaringan pemasok lokal, dampaknya berpotensi mendorong peningkatan produktivitas yang lebih luas di sektor manufaktur.
Media internasional kerap menyebut VinFast sebagai “kebanggaan baru Asia”, dan menurut Pardede, label tersebut memiliki dasar yang kuat. Ia melihat VinFast sebagai contoh perusahaan Asia Tenggara yang berupaya melampaui peran tradisional sebagai produsen kontrak, menuju pencipta teknologi dan pemilik merek global.
“Ketika sebuah perusahaan dari Vietnam mampu merancang, memproduksi, dan mengekspor kendaraan listrik ke pasar global, pesannya jauh lebih luas,” tuturnya. “Ini menandakan Asia Tenggara tidak lagi sekadar menjadi bengkel dunia, tetapi semakin mampu melahirkan teknologi, merek, dan ekosistem industri yang terintegrasi.”
Meski demikian, Pardede menegaskan bahwa penilaian akhir terhadap VinFast akan ditentukan oleh kinerja produk, keuangan, dan tingkat kepercayaan konsumen dalam jangka panjang. Bagi Indonesia, investasi VinFast tidak hanya signifikan dari sisi bisnis, tetapi juga mencerminkan semakin eratnya kerja sama intra-ASEAN, di mana negara-negara kawasan mulai saling berinvestasi untuk membangun industri bernilai tambah tinggi.

Komentar