Mobil
Beranda » Simulasi Biaya Energi JAECOO J5 EV hingga J8 SHS-P, Efisiensi Jadi Pertimbangan Baru Konsumen

Simulasi Biaya Energi JAECOO J5 EV hingga J8 SHS-P, Efisiensi Jadi Pertimbangan Baru Konsumen

JAECOO J5 EV. Dok. Motoresto.id

MOTORESTO.ID JAKARTA — Kenaikan harga energi global mulai memengaruhi cara konsumen dalam memilih kendaraan. Pada Maret 2026, harga minyak dunia sempat mendekati USD120 per barel, level tertinggi dalam empat tahun terakhir, yang turut mendorong peningkatan biaya transportasi di berbagai negara.

Situasi ini membuat banyak konsumen tidak lagi hanya mempertimbangkan harga kendaraan saat pembelian awal, tetapi juga memperhitungkan biaya operasional dalam jangka panjang, khususnya konsumsi energi untuk penggunaan sehari-hari.

Seiring kondisi tersebut, tren kendaraan energi baru atau New Energy Vehicle (NEV) terus menunjukkan pertumbuhan di pasar global. Pada Januari 2026, penjualan NEV di sejumlah negara Eropa seperti Jerman, Inggris, Italia, dan Prancis tercatat meningkat 23,1 persen secara tahunan. Pertumbuhan bahkan lebih tinggi terjadi pada segmen plug-in hybrid (PHEV) yang melonjak hingga 37,8 persen.

Fenomena ini menandakan bahwa efisiensi energi kini tidak hanya dipandang dari sisi keberlanjutan lingkungan, tetapi juga sebagai faktor ekonomi yang memengaruhi keputusan konsumen. Dalam konteks tersebut, teknologi hybrid dinilai semakin relevan karena mampu menawarkan keseimbangan antara efisiensi energi, fleksibilitas jarak tempuh, serta kenyamanan berkendara.

Tren serupa juga mulai terlihat di Indonesia. Fluktuasi harga energi membuat calon pembeli kendaraan semakin mempertimbangkan total biaya penggunaan kendaraan selama masa kepemilikan, termasuk konsumsi bahan bakar atau listrik dalam aktivitas harian.

Perkenalkan, Geely Galaxy M7 yang Mampu Melaju Sejauh 1.730 Kilometer

Melihat perubahan pola pertimbangan tersebut, JAECOO Indonesia melakukan simulasi biaya operasional untuk tiga lini produknya, yakni J5 EV, J7 SHS-P, dan J8 SHS-P ARDIS. Simulasi ini menggunakan asumsi penggunaan kendaraan sekitar 1.500 kilometer per bulan, yang mencerminkan mobilitas rata-rata pengguna kendaraan di kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya.

Perhitungan tersebut didasarkan pada penggunaan sekitar 50 kilometer per hari pada hari kerja atau sekitar 1.000 kilometer per bulan, ditambah perjalanan tambahan sekitar 500 kilometer dalam satu bulan.

Business Unit Director JAECOO Indonesia, Jim Ma, menjelaskan bahwa simulasi ini disusun untuk memberikan gambaran yang lebih jelas kepada calon konsumen mengenai estimasi biaya energi kendaraan.

“Banyak calon pembeli masih membandingkan berbagai teknologi kendaraan sebelum menentukan pilihan. Melalui simulasi biaya operasional ini, kami ingin membantu konsumen memahami estimasi pengeluaran energi dari setiap lini JAECOO sehingga mereka dapat memilih model yang paling sesuai dengan kebutuhan mobilitas mereka,” ujar Jim Ma.

Berdasarkan simulasi tersebut, JAECOO J5 EV menjadi model dengan biaya energi paling rendah di jajaran produk JAECOO. Dengan asumsi tarif listrik sekitar Rp1.700 per kWh, biaya penggunaan energinya diperkirakan berada di kisaran Rp290.760 per bulan atau sekitar Rp9.600 per hari.

Stellantis dan Indomobil Gandeng Leapmotor, Mobil Listriknya Siap Meluncur di Indonesia

Biaya tersebut bahkan dinilai lebih rendah dibandingkan harga satu gelas kopi di sejumlah pusat perbelanjaan di Jakarta.

Efisiensi tersebut didukung oleh baterai berkapasitas 60,9 kWh yang digunakan J5 EV. Berdasarkan pengujian internal di Indonesia, kendaraan ini mampu menempuh jarak hingga sekitar 534 kilometer dalam satu kali pengisian daya, lebih tinggi dibandingkan estimasi jarak tempuh berdasarkan standar NEDC yang berada di kisaran 461 kilometer.

Dengan pola penggunaan sekitar 50 kilometer per hari, kendaraan ini diperkirakan hanya perlu diisi daya setiap beberapa hari sekali.

Dalam jangka waktu lebih panjang, simulasi tersebut juga menunjukkan biaya energi yang relatif rendah. Untuk periode tiga bulan, biaya penggunaan energi diperkirakan berada di kisaran Rp872.000, sementara dalam satu tahun mencapai sekitar Rp3,49 juta.

Angka tersebut menjadi salah satu indikator bahwa kendaraan listrik dapat menawarkan efisiensi biaya operasional yang kompetitif di tengah dinamika harga energi global.

Citroën Hadirkan Program Aftersales Ramadan 2026, Siapkan Kendaraan Pelanggan Sambut Mudik Lebaran

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *