MOTORESTO.ID, JAKARTA — Low Cost Green Car (LCGC) pernah menjadi simbol perubahan besar di industri otomotif Indonesia. Program yang resmi berjalan sejak 2013 ini lahir di tengah pertumbuhan pesat kelas menengah, ketika kebutuhan mobil keluarga meningkat namun pilihan kendaraan terjangkau nyaris tidak tersedia. Saat itu, mobil di bawah Rp100–120 juta hampir tidak ada, sementara konsumsi BBM dan beban subsidi negara terus membengkak.
Pemerintah kemudian merespons lewat program LCGC yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2013, dengan insentif Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) 0 persen. Tujuannya jelas untuk menghadirkan mobil murah, irit bahan bakar (minimal 20 km/liter), sekaligus mendorong industri otomotif lokal melalui kewajiban perakitan dalam negeri dan tingkat kandungan lokal yang tinggi.
Dari kebijakan tersebut lahirlah model-model ikonik seperti Toyota Agya, Daihatsu Ayla, Honda Brio Satya, Suzuki Karimun Wagon R, hingga Datsun GO. Pada masa awal peluncurannya, harga LCGC berada di kisaran Rp80–100 jutaan dan langsung disambut baik oleh pasar. Mobil tak lagi dipandang sebagai barang mewah, melainkan kebutuhan keluarga, terutama bagi pembeli mobil pertama.

Dampaknya signifikan. Penjualan mobil nasional terdongkrak, pabrik dan industri komponen berkembang, bahkan pemerintah menargetkan LCGC sebagai produk ekspor. Kementerian Perindustrian kala itu menyebut LCGC berpotensi meningkatkan ekspor otomotif hingga 20 persen dari total produksi nasional.
Bagaimana Sekarang?
Namun satu dekade berlalu, peta pasar berubah. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan penjualan LCGC pada 2025 hanya mencapai 130.799 unit, turun 27 persen dibandingkan 2024 yang mencatat 178.726 unit. Tren penurunan ini bahkan sudah terlihat sejak 2023, saat penjualan LCGC hampir menyentuh 200 ribu unit. Gaikindo menyebut, saat ini kendaraan elektrifikasi sudah di atas 15 persen yang berarti pasar tumbuh, namun yang menjadi korbannya saat ini adalah LCGC dan non-LCGC.
Ketua I Gaikindo Jongkie D. Sugiarto menambahkan, LCGC harus menemukan ide dan pasar baru agar tetap relevan.
“Teknologi LCGC masih ICE, sementara tren sudah ke kendaraan listrik. Tapi Indonesia luas, tidak semua wilayah siap EV. LCGC harus cari ceruk pasarnya sendiri,” jelas Jongkie diktuip dari Detik.com.
Kini, peran LCGC perlahan digeser oleh LMPV murah, mobil hybrid, hingga mobil listrik entry-level asal China dengan harga di bawah Rp200 juta. LCGC memang jawaban pada masanya. Tantangan hari ini bukan sekadar murah, melainkan benar-benar ramah lingkungan dan relevan dengan kebutuhan konsumen modern.

Komentar