MOTORESTO.ID, JAKARTA — Musim Formula 1 2025 resmi berakhir, namun perhatian dunia balap kini sepenuhnya tertuju pada 2026, tahun yang diprediksi menjadi salah satu momen paling transformatif dalam sejarah Formula 1 modern. FIA akan menerapkan regulasi teknis baru secara menyeluruh, mencakup mesin, sasis, aerodinamika, hingga filosofi balapan, dengan tujuan utama menciptakan pertarungan yang lebih ketat sekaligus lebih berkelanjutan.
Perubahan paling mencolok hadir dari sisi desain mobil. Mulai 2026, mobil F1 akan berukuran lebih kecil dan lebih ringan—panjang berkurang sekitar 20 cm, lebar menyusut 10 cm, dan bobot dipangkas hingga 30 kg. Langkah ini diambil agar mobil menjadi lebih lincah, mudah diikuti dari dekat.
Dari sisi power unit, Formula 1 akan memasuki era baru dengan komposisi tenaga 50 persen mesin pembakaran internal dan 50 persen listrik. Mesin tetap mempertahankan konfigurasi 1.6-liter V6 turbo, namun tanpa MGU-H, digantikan peningkatan signifikan pada MGU-K dengan lonjakan tenaga listrik hingga hampir 300 persen. Seluruh mobil juga akan menggunakan bahan bakar 100 persen berkelanjutan, sejalan dengan target net-zero carbon Formula 1 pada 2030.

Andy Cowell, Chief Strategy Officer Aston Martin, menegaskan bahwa tantangan 2026 bukan hanya soal angka tenaga semata.
“Ini bukan sekadar soal crank power atau baterai. Semuanya saling berkompromi—panas, keandalan, performa. Dan setiap menit pengembangan benar-benar berarti,” ujarnya.
Salah satu perubahan paling revolusioner pada regulasi 2026 adalah dihapuskannya sistem DRS. Sebagai gantinya, FIA memperkenalkan Overtake Mode, yakni sistem dorongan tenaga tambahan yang dapat digunakan pembalap ketika berada dalam jarak satu detik dari mobil di depannya. Dipadukan dengan active aerodynamics, di mana sayap depan dan belakang dapat berubah sudut secara dinamis, pembalap kini memiliki kontrol yang lebih besar dalam menentukan strategi menyerang maupun bertahan.
Selain itu, pembalap juga akan dibekali Boost Mode yang dapat diaktifkan kapan saja sepanjang satu putaran. Mode ini memungkinkan pembalap mengerahkan daya maksimum dari mesin dan baterai, dengan komposisi tenaga hingga 50 persen berasal dari listrik. Sistem ini memiliki kemiripan dengan KERS yang pernah digunakan di Formula 1 pada periode 2009 hingga 2013, namun dengan kapasitas dan peran yang jauh lebih signifikan.
George Russell menyambut perubahan ini dengan optimisme.
“Kita mungkin akan melihat overtake di tempat-tempat yang sebelumnya mustahil. Bukan lagi sekadar DRS di trek lurus,” kata pembalap Mercedes tersebut.
Dari sisi kompetisi, regulasi baru ini diprediksi akan mengacak peta kekuatan tim. Sejarah menunjukkan bahwa tim yang cepat beradaptasi di awal siklus regulasi biasanya akan mendominasi beberapa musim berikutnya, seperti Mercedes pada era hybrid 2014. Tak heran jika pabrikan besar seperti Audi (bersama Sauber), Honda (Aston Martin), dan Ford (Red Bull Powertrains) menaruh taruhan besar pada 2026.
Meski secara catatan waktu mobil 2026 diperkirakan sekitar satu hingga dua detik lebih lambat, FIA menegaskan bahwa esensi Formula 1 tidak akan hilang. Fokusnya kini bukan sekadar kecepatan absolut, melainkan kualitas balapan, strategi energi, dan kecerdasan pembalap.

Komentar