Mobil
Beranda » VinFast Jual Dua Pabrik Utama dan Pangkas Utang Rp113 Triliun, Strategi Baru atau Tanda Bahaya?

VinFast Jual Dua Pabrik Utama dan Pangkas Utang Rp113 Triliun, Strategi Baru atau Tanda Bahaya?

Vinfast
Dok. Vinfast

MOTORESTO.ID, JAKARTA — Produsen kendaraan listrik asal Vietnam, VinFast, kembali menjadi sorotan setelah mengumumkan penjualan bisnis manufakturnya di Vietnam, termasuk dua pabrik utama yang selama ini menjadi tulang punggung produksi perusahaan.

Nilai transaksi tersebut mencapai 13,3 triliun dong Vietnam atau sekitar US$506 juta. Tak hanya aset pabrik, pihak pembeli juga akan mengambil alih sekitar US$6,9 miliar utang VinFast, membuat perusahaan kendaraan listrik tersebut hampir terbebas dari beban utang yang selama ini membayangi kinerjanya.

Langkah ini menjadi salah satu keputusan strategis terbesar yang dilakukan VinFast sejak berdiri pada 2017 di bawah naungan konglomerasi Vietnam, Vingroup.

VinFast Belum Pernah Mencetak Keuntungan

Dikutip dari Reuters, Selama hampir satu dekade terakhir, VinFast dikenal sebagai salah satu pemain otomotif yang paling agresif melakukan ekspansi global. Perusahaan membangun jaringan pemasaran di berbagai negara, termasuk Indonesia, Amerika Serikat, India, hingga Eropa.

Namun di balik ekspansi tersebut, VinFast belum pernah membukukan keuntungan sejak didirikan.

Mazda Tambah Opsi Zinc Green Metallic untuk Miata 2026

Menurut laporan Vingroup, biaya manufaktur menjadi penyumbang terbesar kerugian perusahaan yang mencapai sekitar US$3,9 miliar sepanjang tahun lalu.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, VinFast memilih mengadopsi model bisnis yang lebih ringan aset atau asset-light, dengan fokus utama pada riset dan pengembangan produk kendaraan listrik.

Perusahaan menyebut strategi baru ini memungkinkan mereka lebih fokus pada inovasi dibanding mengelola aset manufaktur yang membutuhkan biaya besar.

Struktur Transaksi VinFast Jadi Sorotan

Meski secara bisnis dinilai masuk akal, struktur transaksi ini justru memunculkan banyak pertanyaan dari para analis.

Analis industri otomotif dari YCP Singapura, Mehdi Jaouadi, menilai langkah tersebut dapat memperkuat fondasi pertumbuhan VinFast di masa depan. Namun ia juga menyoroti aspek tata kelola perusahaan.

Ferrari Luce EV Picu Kontroversi, Bos Ferrari: Permintaan Kuat

“Dari perspektif strategis dan finansial, langkah ini masuk akal dan memberi fondasi pertumbuhan bagi VinFast. Namun dari sisi tata kelola, ada sejumlah tanda bahaya.”

Salah satu perhatian utama adalah keterlibatan perusahaan Future Investment and Trading Development (FIRD) yang akan menjadi pemegang mayoritas bisnis manufaktur VinFast dengan kepemilikan mencapai 95,5 persen.

FIRD sebelumnya memiliki hubungan dengan Vingroup dan pendiri VinFast, Pham Nhat Vuong. Kondisi ini membuat sejumlah pengamat mempertanyakan struktur kepemilikan dan independensi transaksi tersebut.

Selain itu, terdapat perusahaan lain bernama Ngoc Quy Investment and Trading Development yang ikut terlibat dalam tahap awal transaksi, namun tidak lagi memiliki kepemilikan setelah proses selesai pada September mendatang.

Pabrik Indonesia Tetap Berjalan

Vinfast
Dok. Vinfast Indonesia

Di tengah proses restrukturisasi ini, VinFast memastikan bahwa fasilitas produksi dan perakitan di luar Vietnam tetap dipertahankan.

Changan Deepal S07 Terpilih Menjadi Kendaraan Resmi di Java Jazz Festival 2026

Artinya, proyek pembangunan pabrik VinFast di Subang, Jawa Barat, serta fasilitas produksi di India tetap menjadi bagian dari strategi ekspansi global perusahaan.

VinFast juga membantah spekulasi yang menyebut pabrik mereka akan dijual kepada perusahaan teknologi manufaktur asal Taiwan, Foxconn.

Meski begitu, pasar tampaknya masih menunggu kepastian arah bisnis VinFast setelah restrukturisasi ini. Sejak transaksi diumumkan pada pertengahan Mei 2026, saham VinFast tercatat turun sekitar 12 persen.

Keputusan menjual aset manufaktur memang dapat memperbaiki kondisi keuangan jangka pendek. Namun, efektivitas strategi asset-light ini baru akan terlihat dalam beberapa tahun ke depan ketika VinFast harus membuktikan bahwa mereka mampu tumbuh dan menghasilkan keuntungan di tengah persaingan ketat industri kendaraan listrik global.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *