Mobil
Beranda » Wuling AirEV Alami Depresiasi Signifikan, Apa yang Membuat EV Murah Ini Sulit Terjual?

Wuling AirEV Alami Depresiasi Signifikan, Apa yang Membuat EV Murah Ini Sulit Terjual?

Wuling
Table of Contents

MOTORESTO.ID, JAKARTA – Mobil listrik (EV) semakin diminati di Indonesia, namun tidak semua model mampu mempertahankan nilainya di pasar. Salah satu contohnya adalah Wuling AirEV, yang sempat menjadi EV termurah saat pertama kali diperkenalkan pada 2022. Harga barunya saat itu mencapai Rp238 juta untuk varian Standard Range dan Rp295 juta untuk varian Long Range.

Meski sempat mencatat penjualan cukup tinggi, kondisi pasar yang cepat berubah membuat nilai AirEV terjun bebas dalam waktu singkat. Berdasarkan pantauan tim Motoresto.id di situs jual beli mobil bekas, harga bekas varian Long Range 2022 kini hanya sekitar Rp105 juta. Depresiasi lebih dari 50 persen ini membuat konsumen mempertimbangkan ulang untuk membeli unit baru.

Selain depresiasi, beberapa faktor lain memengaruhi daya tarik AirEV. Tampilan mobil dianggap kurang menarik dibandingkan kompetitor, dan fitur pengisian dayanya masih AC tanpa fast charging, sedangkan EV murah lain kini menawarkan opsi pengisian lebih cepat. Hal ini membuat AirEV terlihat kurang relevan di tengah gempuran EV baru yang desainnya lebih “mobil konvensional”.

Fenomena ini juga menunjukkan karakter unik pasar otomotif Indonesia: harga bekas sering menjadi penentu nilai jual baru. Jika harga bekas terus anjlok, penjualan unit baru juga terdampak. Sementara itu, kompetitor EV yang lebih stabil harga bekasnya kini justru lebih diminati, apalagi di tengah demam EV 2025 yang didorong fenomena FOMO dan insentif pemerintah.

Meski begitu, AirEV tetap unggul untuk pengguna awal (early adopter) yang menginginkan mobil perkotaan sederhana dan praktis. Namun tanpa kepastian harga bekas, Wuling harus bekerja ekstra untuk menjaga minat konsumen agar tidak tergerus oleh kompetisi.

Kia Perkuat Peran Global di FIFA World Cup 2026 lewat Kampanye “Inspiration Connects Us All”

Kesimpulan

Wuling AirEV menjadi pelajaran penting bagi produsen EV di Indonesia. Mobil yang unggul dari sisi spesifikasi tapi gagal menjaga harga bekasnya bisa mengalami penurunan minat beli, meski potensinya masih ada.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *