
motoresto.id/, TANGERANG — Produsen otomotif BAIC (Beijing Automotive Industry Corporation) dari Tiongkok terus memperkuat pijakannya di pasar Indonesia.
Setelah menghadirkan beberapa model SUV berbasis ICE dan hybrid, BAIC Indonesia, bersama PT JHL Auto kini secara resmi mengumumkan langkah besarnya dengan memasukkan lini mobil listrik (BEV) dan plug-in hybrid (PHEV) mulai awal 2026, lengkap dengan rencana perakitan lokal.
Chief Operating Officer BAIC Indonesia, Dhani Yahya, menjelaskan bahwa arah bisnis BAIC di Indonesia kini menyentuh fase penting menuju elektrifikasi. Ia mengatakan bahwa meski saat ini seluruh model masih diimpor utuh (CBU), ke depan perusahaan menargetkan local assembly untuk seluruh jajaran produknya, termasuk kendaraan listrik.
āTentu, jadi kita akan rakit lokal termasuk juga yang menarik itu dari BEV-nya,ā ujarnya.
Menurut Dhani, model ICE seperti BJ40 sudah menjadi volume maker, sementara model lain seperti BJ30 hybrid dan X55 masih dipantau pertumbuhannya. Ia mengakui bahwa persaingan di segmen harga Rp 380ā400 jutaan kini semakin ketat akibat dominasi mobil listrik.

āPergeseran di segmen pricing disitu sangat kuat. Kecenderungan konsumen saat ini masih ke elektrik,ā jelasnya.
BAIC menyiapkan roadmap produk yang cukup agresif untuk pasar Indonesia pada periode 2026ā2027. Mereka akan menghadirkan Arcfox T1, disusul dengan BJ40 Pro dan BJ80 yang semuanya sudah dibekali teknologi plug-in hybrid.
Selain itu, BAIC juga berencana meluncurkan midsize MPV listrik yang akan tersedia dalam dua pilihan, yaitu REV/PHEV dan BEV. Langkah ini menegaskan bahwa BAIC tidak hanya berfokus pada segmen SUV off-road, tetapi juga mulai memperluas portofolionya ke segmen kendaraan keluarga sekaligus memperkuat komitmennya pada elektrifikasi penuh.
BAIC Tidak Akan Terjun ke Perang Harga
Di tengah tren penurunan harga EV di Indonesia, BAIC menegaskan tidak akan ikut ābakar-bakaran hargaā. Dhani menegaskan bahwa perusahaan lebih memilih menjaga stabilitas bisnis dan nilai produk.
āKita bukan perang harga. Kita tidak sanggup untuk membuang di bawah rugi terlalu banyak. Itu akan nggak sehat buat kita,ā tegasnya.
Ia menambahkan bahwa BAIC lebih fokus menjaga resale value, kualitas layanan, dan kepastian jangka panjang bagi konsumen.
